PROFIL KECAMATAN PUJUT
I. KONDISI GEOGRAFIS
A. Peta Wilayah
B. Batas Wilayah
Kecamatan Pujut merupakan salah satu kecamatan di Lombok Tengah yang luas eksotis, terdapat 16 desa di dalam wilayah kecamatan pujut. Luas wilayah dan nama-nama desa dapat dilihat di bawah ini :
Desa dan luas wilayah Kecamatan Pujut
No | Desa | Luas Wilayah (Km²) | Persentase (%) |
1 | Tumpak | 3454 | 1479 |
2 | Prabu | 493 | 211 |
3 | Kuta | 2366 | 1013 |
4 | Rembitan | 1475 | 632 |
5 | Sukadana | 783 | 335 |
6 | Mertak | 1427 | 611 |
7 | Pengengat | 1197 | 513 |
8 | Teruwai | 2965 | 1270 |
9 | Gapura | 340 | 1,46 |
10 | Kawo | 836 | 358 |
11 | Segala Anyar | 450 | 193 |
12 | Sengkol | 1836 | 786 |
13 | Pengembur | 1333 | 571 |
14 | Ketara | 356 | 152 |
15 | Tanak Awu | 1077 | 461 |
16 | Bangket Parak | 2967 | 1270 |
Batas Wilayah Kecamatan Pujut
- Sebelah Utara : Kecamatan Praya Tengah
- Sebelah Selatan : Samudra Indonesia
- Sebelah Barat : Kecamatan Praya Barat
- Sebelah Timur : Kecamatan Praya Timur
C. Data Atraksi Alam
Terdapat paling tidak empat destinasi wisata yang telah mendunia di kecamatan pujut, yaitu Pantai Kuta, Pantai Aan, Pantai Gerupuk dan Desa Rembitan (Desa Sade)
Nama Objek wisata, jenisnya dan luasan serta estimasi jumlah pengunjung di Kecamatan Pujut
No | Kecamatan | Nama objek wisata | Jenis obyek wisata | Jumlah pengunjung (orang per tahun) | Luas Kawasan (Ha) |
1 | Pujut | · Pantai Kuta · Pantai Aan · Pantai Gerupuk · Desa Rembitan (Dusun Sade) | · Wisata alam · Wisata alam · Wisata alam · Wisata budaya | · 705.794 · 458.766 · 230.000 · 705.794 | 1.175 1.175 20 5,5 |
C. Data Atraksi Budaya
Kecamatan Pujut menawarkan atraksi budaya yang bisa dinikamti sebagai salah satu alternatif berwisata, keindahan tradisi dan budaya masyarakatnya pun menarik untuk dikupas, sebagai berikut :
1. Roah Segare
Dalam pelaksanaan Roah Segare banyak digunakan simbol-simbol baik dalam tata cara pelaksanaanya maupun dalam wujud sarana upacara/sesajen yang digunakan dalam upacara tersdebut. Simbol-simbol tersebut mengandung makna yang sangat dalam seperti makna religius, makna kecintaan alam, penyucian dan keselamatan laut. Tradisi Roah Segare dilaksanakan dengan tata aturan yang dimiliki oleh manusia baik secara individu atau kelompok adalah berdasarkan proses pewarisan dan belajar. Dalam proses pewarisan dan pembelajaran tersebut tata krama sebagai salah satu perwujudan dan peradaban manusia selalu mengikuti perkembangan manusia dan kebudayaannya. Masyarakat Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tenga, NTB tidak terlepas daris arus globalisasi. Namun dalam menanggapi unsur-unsur budaya luar yang terserap kedalam budaya sensiri sifatnya sangat terbuka. Sifat keterbukaan ini dilandasi oleh rasa percaya diri yang kuat dimana budaya daerah yang dimiliki akan tetap ajeg, walaupun ada suatu pergeseran, yang jelan nilai-nilai budaya yang dianggap prinsip masih tetap berlaku.
2. Mangan Berenges
Acara Budaya dan Tradisi masyarakat suku sasak di Desa Kuta itu digelar di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Kuta, tepatnya di pinggir Pantai Senek dan Pantai Kuta, Desa Kuta
Dalam pelaksanaan acara Budaya dan Tradisi “Mangan Berenges” ini, masyarakat bersama seluruh anggota keluarganya datang berbondong – bondong ke Pinggir Pantai Kuta, dan Pantai Senek, dengan membawa hasil Pertanian, Perkebunan, Peternakan, hasil Laut dan makanan khas masyarakat Suku Sasak, yang telah di masak dan dibawa khusus menggunakan Bakul khas masyarakat suku sasak dengan cara di taruh diatas kepala atau dalam bahasa sasak di Bande. Setibanya di lokasi acara, Makanan dan buah – buahan yang dibawa, disajikan dan dimakan bersama – sama dengan cara Makan Berjamaah atau Makan Begibung (bahasa sasak – red) di Pinggir Pantai sambail Bersantai.
3. Simbiq
Dalam acara Budaya dan Tradisi Mangan Berenges itu, masyarakat juga mengadakan acara Ritual “Simbiq” yang dipimpin oleh Mangku Bumi Bapak Trasne, yang tujuannya untuk menjauhkan masyarakat dari segala Penyakit.
4. Mare Madeq
Acara mare madeq atau mondut yaitu tradisi menangkap ikan dimana masyarakat menginap di pesisir membuat tenda dari anyaman daun kelapa membuat bale balean atau kelansah. Atau terpal.berlokasi di sepanjang pantai mandalika sampai pantai serenting. Dilakukan pada bulan agustus september.mereka menginap selama sehari sampai satu mingguan. Hasil tangkapan di jemur dan di konsumsi disana.
5. Festival ”Bau Nyale”
Salah satu festival tradisional yang tersohor di sektor pariwisata Lombok ialah Festival Bau Nyale. Istilah Bau Nyale ini berasal dari bahasa Sasak yang artinya menangkap cacing. “Bau” berarti “menangkap” sedangkan “Nyale” artinya “cacing laut yang berwarna-warni”. Pelaksanaan festival tradisional ini berkaitan erat dengan cerita rakyat setempat mengenai Putri Mandalika. Warga setempat akan menangkap cacing laut yang diyakini merupakan sebagai jelmaan sang putri di Pantai Kuta Lombok.
Tak hanya menangkap cacing saja, sejumlah rangkaian acara yang menyertai festival ini juga sangat menarik untuk disimak. Tak heran jika jadi banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang ingin ikut menghadirinya. Acara menangkap cacing yang meriah ini dilakukan di bibir pantai yang berhamparkan pasir putih pantai, dengan panorama air laut yang biru dan jernih. Tentunya kegiatan kebudayaan ini sudah bertahun-tahun diwariskan turun temurun dari dan oleh warga Pulau Sasak.
6. Peresean
Salah satu yang sayang untuk dilewatkan adalah Peresean. Para zaman Kerajaan Mataram dulu, pemuda Suku Sasak yang ingin bergabung menjadi prajurit harus mengikuti Peresean. Acara itu terdiri dari pepadu yang dilengkapi dengan tongkat rotan (penjalin) dan perisai dari kulit kerbau yang tebal dan keras (ende). Peresesan dilakukan untuk melatih ketangkasan, ketangguhan dan keberanian para pemuda.
Peresean juga diyakini oleh masyarakat setempat sebagai ritual meminta hujan saat musim kemarau panjang tiba. Kini, Peresean menjadi tradisi budaya yang diminati oleh wisatawan. Dalam Peresean, pepadu akan diawasi oleh pakembar atau wasit. Dalam satu “pertandingan”, ada dua pakembar yang mengawasi, satu untuk di luar area dan lainnya di tengah area.
Pepadu tidak dipersiapkan sebelumnya dan peserta dipilih secara acak dari kerumunan masyarakat yang menyaksikan acara ini. Penonton juga boleh mengajukan diri sebagai pepadu. Pepadu akan berhadapan sambil mengayunkan penjalin ke arah lawan, seperti sedang mencambuk. Bagian tubuh yang boleh menjadi sasaran cambuk adalah kepala, pundak dan punggung, tapi bagian bawah kaki (paha) tidak diperbolehkan.
Pepadu lainnya boleh menangkis serangan menggunakan ende dan membalas serangan dengan cara yang sama. Aksi saling cambuk itu membuat suasana menjadi tegang bercampur seru. Ditambah lagi Peresean diiringi dengan musik pengiring yang terdiri dari gong, kendang, rincik, simbal, suling dan kanjar sehingga suasana menjadi meriah.
Pakembar akan menghentikan pertandingan ketika ada salah satu pepadu yang terluka atau berdarah. Jika selama pertandingan belum ada yang terluka, maka Peresean akan terus dilanjutkan hingga ronde kelima, tergantung kesepakatan awal. Kemudian, pakembar akan melihat siapa yang memiliki luka paling sedikit, maka dialah pemenangnya.
Meski telah melakukan pertarungan sengit, para pepadu harus saling memeluk dan memaafkan. Inilah nilai yang ingin ditunjukkan dalam Peresean, yaitu kesabaran dan kerendahan hari serta rasa saling menghormati satu sama lain.
7. Nanjong
Tradisi tersebut dinamakan tradisi Nanjong. Kegiatanya dalam rangka kegiatan usai melakukan Madak yang dilakukan oleh warga setempat selama empat kali dalam setahunya, yakni pada pada bulan empat, lima dan enam. Untuk saat ini masyarakat sudah melakukan madak yang kedua atau yang disebut dengan madak dendam bontar. Di mana nama dendam bontar tersebut karena melihat cuaca malam yang sudah di akhir bulan dan gelap. Madak dendam bontar tersebut setelah warga melakukan madak pada bulan terang atau yang disebut madak bontong.
Dalam setiap kegiatan madak tersebut, ritual Nanjong merupakan kegiatan yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat setempat. Terutama bagi para muda-mudi, kerena antara muda-mudai pada setiap ada madak pasti ada kegiatan mereweh atau midang (pemuda/laki-laki bertamu ke rumah perempuan/anak gadis).
Biasanya, setiap pemuda yang memiliki pacar, dan pacarnya saat itu sedang melakukan madak dengan keluarganya, maka sang pemuda tersebut harus datang untuk midang ke pantai tersebut. Pemuda itu juga saat midang harus membawakan makanan-makanan kesukaan sang kekasih. ‘’Kalau bahasa kita midang di mana setiap ada insan yang memiliki pacar maka pemuda tersebut harus mencari dengan membawa segala bentuk oleh-oleh. Kemudian mereka dijamu oleh pihak perempuan,” ungkap Lalu Wirakasa selaku tokoh adat dan Pembina Persatuan Pemuda Bajang Rembitan (PPBR) saat ditemui di lokasi.
II. KONDISI DEMOGRAFIS
A. Jumlah Penduduk
Jumlah Penduduk Kecamatan Pujut Lombok Tengah
No | Desa | Rumah Tangga | Jumlah Penduduk | Jumlah | |
Laki-laki | Perempuan | ||||
1 | Tumpak | 1.657 | 2.608 | 2.969 | 5.577 |
2 | Prabu | 1.098 | 1.913 | 2.034 | 3.947 |
3 | Kuta | 2.283 | 4.585 | 4.617 | 9.202 |
4 | Rembitan | 2.092 | 3.721 | 4.120 | 7.841 |
5 | Sukadana | 1.625 | 2.490 | 2.755 | 5.245 |
6 | Mertak | 2.386 | 3.731 | 3.864 | 7.595 |
7 | Pengengat | 1.869 | 2.743 | 2.960 | 5.703 |
8 | Teruwai | 1.625 | 2.458 | 2.582 | 5.040 |
9 | Gapura | 863 | 1.365 | 1.511 | 2.876 |
10 | Kawo | 2.869 | 4.654 | 4.962 | 9.616 |
11 | Segala Anyar | 959 | 1.509 | 1.619 | 3.128 |
12 | Sengkol | 3.242 | 5.302 | 5.810 | 11.112 |
13 | Pengembur | 2.774 | 4.376 | 5.162 | 9.538 |
14 | Ketara | 1.194 | 2.073 | 2.359 | 4.432 |
15 | Tanak Awu | 2.678 | 4.490 | 4.872 | 9.362 |
16 | Bangket Parak | 1.425 | 2.137 | 2.245 | 4.382 |
Jumlah | 30.924 | 50.613 | 54.912 | 105.525 | |
D. Tofografi Wilayah
Kecamatan Pujut memiliki iklim tropis dimana dengan musim kemarau yang kering. Musim hujan mulai sekitar dibulan April dengan curah hujan pada bulan-bulan tersebut rata-rata mencapai diatas 100 mm, sementara curah hujan tertinggi terjadi dibulan Desember yang mencapai 382 mm. Curah hujan dengan rata-rata dibawah 100 mm bahkan 50 mm terjadi pada bulan Mei sampai dengan dibulan September.
Topografi Kecamatan Pujut adalah daerah perbukitan dengan ketinggian antara 100 sampai 355 mdpl serta kawasan pantai sebagai kawasan pariwisata
Follow Us
- Jalan Majapahit No 62
- Kec. Selaparang
- Kota Mataram
- Prov. Nusa Tenggara Barat
- Kode Pos : 83125